Ket: Hendly Mangkali (Jurnalis BM) OPINI- Suasana ruang Badan Anggaran (Banggar) mendadak mengeras. Agenda yang semestinya berjalan formal berubah menjadi panggung penuh tanda tanya ketika pembahasan paket proyek bernilai miliaran rupiah terhenti di tengah jalan. Bukan tanpa sebab, sejumlah anggota Banggar mengendus kejanggalan yang mengarah pada dugaan praktik “kongkalikong” antara oknum dinas dan pihak rekanan.
Sumber internal menyebut, sejak awal, aroma tidak sedap sudah tercium. Usulan anggaran dinilai tidak sinkron, estimasi biaya melambung tanpa penjelasan, dan nama rekanan tertentu muncul dalam daftar calon penyedia barang dan jasa, salah satu dokumen yang bocor ke media. “Terlalu banyak kebetulan,”
Ketika proses pendalaman dimulai, beberapa pertanyaan sederhana justru tidak mampu dijawab secara meyakinkan oleh pihak dinas. Bahkan, pejabat yang seharusnya hadir memberikan penjelasan justru absen tanpa alasan yang kuat. Ketidakhadiran itu memperkuat kecurigaan, ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.
Perdebatan berlangsung menarik, pembahasan tanpa kehadiran pejabat terkait dan klarifikasi penuh atas indikasi penyimpangan. Proyek miliaran rupiah tersebut akhirnya diputuskan ditolak, sebuah sinyal keras bahwa mekanisme anggaran tidak boleh menjadi ruang gelap permainan segelintir orang.
Di luar ruang sidang, bisik-bisik terus bergulir. Ada yang menyebut proyek itu sudah “diatur” jauh sebelum masuk meja Banggar. Ada pula yang mengatakan pembagian jatah telah disepakati oleh orang-orang tertentu di belakang layar. Meski semua masih sebatas dugaan, sikap tegas Banggar menandai bahwa pola lama tak lagi bisa dibiarkan melenggang.
Kini bola berada di tangan aparat pengawasan dan penegak hukum. Ketika proses anggaran mulai memperlihatkan retakan, publik berhak mengetahui apakah itu sekadar kelalaian administrasi, atau justru benang kusut dari praktik kongkalikong yang selama ini sulit dibuktikan.
No Comments