Kadis Kesayangan yang Malas Berkantor

1 minutes reading
Tuesday, 2 Dec 2025 07:47 105 Redaksi Lipsus

MORUT- Hari ini, jurnalis mengunjungi kantornya, namun sejak kemarin tidak berkantor. Fenomena “Kadis kesayangan” kembali mencuat di lingkungan birokrasi daerah. Seorang kepala dinas yang disebut-sebut dekat dengan pimpinan, justru kerap menjadi sorotan karena jarang terlihat di kantor. Dalam sejumlah kesempatan, pegawai bahkan menyindir bahwa sang kadis lebih sering muncul saat agenda seremonial ketimbang menjalankan tugas pelayanan publik sehari-hari.

Ketidakhadiran yang berulang ini menimbulkan pertanyaan serius: apakah jabatan publik boleh dikelola dengan pola kerja semaunya? Sementara pegawai lain dituntut disiplin, sosok yang mendapat keistimewaan justru terkesan kebal aturan. Kondisi ini bukan hanya mencederai profesionalisme birokrasi, tetapi juga merusak kultur kerja yang semestinya dibangun berdasarkan integritas dan akuntabilitas.

Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin kompleks, masyarakat berhak mendapatkan pejabat yang bekerja penuh waktu, bukan hanya hadir ketika sorotan kamera menyala. Jika seorang kadis saja tidak mampu menunjukkan etos kerja, bagaimana mungkin ia dapat menuntut bawahannya untuk disiplin?

Tanpa evaluasi dan ketegasan dari pimpinan daerah, perilaku seperti ini akan terus berulang. Publik menunggu, apakah pemerintah berani menegakkan aturan yang sama untuk semua, atau tetap memelihara budaya “kesayangan” yang menjadi sumber mandeknya reformasi birokrasi.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA