MORUT – Suasana Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar di ruang Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Morowali Utara, Rabu (18/2/2025), berlangsung panas dan penuh emosi. Rapat yang membahas pengaduan pelayanan di RSUD Kolonodale itu diwarnai ungkapan keras dari anggota dewan maupun pihak keluarga pasien.
Rapat dipimpin Ketua Komisi I, Ince Mochamad Arief Ibrahim, yang beberapa kali berusaha menenangkan keluarga almarhum Saharudin Landoala. Namun, ketegangan tak terhindarkan ketika satu per satu keluarga menyampaikan kekecewaan mereka.
Momen paling menyita perhatian terjadi saat Anggota Komisi I, Yaristan Palesa, angkat bicara. Dengan nada suara pelan namun penuh tekanan, Yaristan melontarkan kritik tajam terhadap manajemen rumah sakit.
“Ibu direktur karena kita ini relasi dengan Komisi I. Kalau ada yang begitu ditinjau lah, jangan dipilih kasih. Kasian ini Bu, laporannya ibu semua enak, tapi pada prinsipnya di lapangan ‘tai minyak’, ‘tai kuda’ semua,” ujar Yaristan.
Ucapan tersebut sontak membuat ruangan terdiam. Meski disampaikan tanpa berteriak, kalimat itu mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap dugaan ketidaksesuaian antara laporan administrasi dan kondisi faktual di lapangan.
Tak hanya dari anggota dewan, luapan emosi juga datang dari pihak keluarga. Beberapa kali terdengar kata “kurangajar” diucapkan sebagai bentuk kemarahan atas pelayanan yang mereka nilai tidak manusiawi.
Salah satu pria keluarga pasien menuding perawat bersikap cuek saat dirinya mencari informasi kondisi keluarganya.
“Nanti ketika saya mengamuk di RS baru kalian gelisah. Kalian sementara santai-santai di ruang jaga. Mereka cuek sama saya, saya tanyakan di mana saya punya keluarga, tidak ada yang jawab,” ungkapnya.
Sementara itu, adik almarhum mengaku panik saat oksigen yang terpasang di hidung pasien terlepas. Ia menyebut sempat mencari perawat, namun merasa diabaikan. Ia juga menyinggung adanya darah yang keluar.
“Ada darah segar, saya ingat sekali itu kata-katanya dokter, selama bukan darah segar yang keluar tidak apa-apa,” katanya dengan suara bergetar.
Dari pihak manajemen, dokter Sherly Pede menyampaikan belasungkawa serta menjelaskan proses penanganan medis yang telah dilakukan. Manajemen rumah sakit juga menyampaikan permohonan maaf dan komitmen untuk melakukan evaluasi internal.
Dalam kesimpulan rapat, DPRD Morowali Utara menegaskan akan menggelar RDP lanjutan bersama RSUD Kolonodale dan Dinas Kesehatan guna melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan dan kinerja tenaga medis.
RDP tersebut menjadi cermin betapa kuatnya emosi yang muncul ketika pelayanan kesehatan dipertanyakan. Kata-kata keras seperti “tai minyak”, “tai kuda”, dan “kurangajar” yang terdengar dalam forum resmi DPRD menandai dalamnya kekecewaan yang dirasakan keluarga atas peristiwa tersebut.
No Comments