Ket: Illustrasi foto pejabat perempuan (AI) Catatan Redaksi- Seorang perempuan berinisial HP, pejabat dengan jabatan yang sebenarnya tidak begitu mentereng di salah satu OPD, tiba-tiba menjadi sosok kunci dalam percakapan ruang-ruang gelap proyek daerah. Diam-diam, HP dipercaya melakukan pertemuan dengan seorang pengusaha besar di Jakarta, figur yang belakangan ramai disebut-sebut sebagai “pengatur lalu lintas” sejumlah proyek bernilai miliaran.
Namun babak paling mengejutkan justru datang dari seseorang yang sangat dekat dengan HP. Orang inilah yang menyimpan seluruh data dan dokumen penting terkait dugaan “atur-atur” proyek tersebut. Dari dokumen rencana kerja hingga pola komunikasi, bahkan daftar perusahaan yang diduga sudah disiapkan untuk dimenangkan.
Menurut pengakuannya, proyek-proyek yang mestinya melalui proses transparan justru seolah menjadi panggung transaksi kepentingan. Ia tak hanya menyerahkan data, tetapi juga memaparkan kronologis lengkap bagaimana proyek itu diduga dikondisikan sejak awal: siapa yang menghubungkan, bagaimana pola komitmen, dan siapa yang akan menuai keuntungan.
Ironisnya, cerita tak berhenti pada soal proyek. Orang dekat HP itu bahkan menyebut nama-nama oknum pejabat dan pihak tertentu yang diduga ikut menikmati “wisata rohani” menggunakan uang yang berkelindan dengan proyek dimaksud. Kegiatan yang seharusnya sarat nilai moral dan spiritual berubah menjadi bungkus manis untuk perjalanan yang dibiayai dari aliran dana tak wajar.
Catatan ini membuka satu kenyataan pahit: bahwa permainan proyek tidak selalu digerakkan pejabat besar. Kadang justru dari sudut kecil dalam sebuah kantor, ada pintu rahasia yang menghubungkan kepentingan lokal dengan tangan-tangan besar di luar daerah.
Dan di balik semua itu, tersisa pertanyaan publik yang menggantung:
Berapa banyak proyek yang berjalan bukan karena kebutuhan rakyat, tetapi karena kesepakatan di luar meja resmi?
Catatan ini masih berkembang. Jejak dokumen yang dipegang orang dekat HP dapat menjadi kunci membuka tabir praktik yang selama ini hanya berbisik di koridor kantor.
No Comments